Oleh: Chairul Aqsal
Kematian Timothy Anugrah Saputra bukan sekadar kabar duka. Ia adalah cermin yang menyoroti luka sosial kita. Saat seorang kader Front Muda Revolusioner (FMR) berpulang, dan respons publik yang muncul bukanlah empati melainkan keacuhan di ruang-ruang digital, kita sedang menyaksikan sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar tragedi pribadi. Kita sedang berhadapan dengan gejala sosial yang menunjukkan bahwa masyarakat kita mulai kehilangan rasa kemanusiaan bersama. Dalam istilah Émile Durkheim, inilah kondisi anomie saat norma dan ikatan moral dalam masyarakat melemah, hingga manusia berjalan tanpa arah moral yang jelas. Â
Runtuhnya Ikatan Moral Bersama Â
Durkheim menyebut anomie sebagai kondisi tanpa norma, di mana nilai-nilai yang seharusnya menjadi pedoman hidup bersama mulai pudar. Dalam masyarakat yang sehat, ada kesadaran kolektif (conscience collective) seperangkat nilai yang membuat kita saling peduli dan merasa terhubung. Kematian seseorang, misalnya, biasanya memunculkan duka bersama yang memperkuat rasa solidaritas. Â
Namun, ketika kematian seperti yang dialami Timothy justru disambut dengan sikap dingin, bahkan komentar yang menihilkan empati, itu pertanda bahwa kesadaran kolektif kita sedang runtuh. Â
Kampus yang seharusnya menjadi ruang pembentukan solidaritas dan kepedulian kini sering berubah menjadi arena kompetisi individualistik. Mahasiswa tidak lagi melihat satu sama lain sebagai sesama pembelajar, melainkan sebagai pesaing. Dalam lingkungan seperti ini, empati dianggap tidak produktif, dan kemanusiaan bergeser menjadi sekadar urusan pribadi. Â
Solidaritas yang Hilang
Durkheim membedakan dua jenis solidaritas. Pertama, solidaritas mekanik, yang muncul di masyarakat tradisional karena kesamaan (agama, suku, atau kelompok). Kedua, solidaritas organik yang muncul di masyarakat modern karena saling ketergantungan kita berbeda, tapi saling membutuhkan. Â
Sayangnya, banyak ruang modern termasuk kampus gagal membangun solidaritas organik ini. Rasa kebersamaan berbasis satu almamater memudar, sementara rasa saling membutuhkan pun tak tumbuh. Akibatnya, tercipta ruang sosial yang kosong secara moral tempat orang hidup berdampingan tanpa benar-benar terhubung. Â
Inilah anomie dalam wujud paling nyata: ketika individu merasa sendiri di tengah keramaian, dan tragedi orang lain tidak lagi menggugah hati. Â
Tragedi Sebagai Cermin Sosial Â
Kisah Timothy mengingatkan kita bahwa anomie bukan konsep abstrak ia hadir dalam kehidupan nyata. Seorang mahasiswa yang berjuang memperjuangkan nilai-nilai solidaritas justru gugur di tengah lingkungan yang kehilangan solidaritas itu sendiri. Â
Kampus, yang seharusnya menjadi tempat tumbuhnya nilai kemanusiaan, justru gagal menjadi penyangga moral. Ketika stigma ideologis dan apatisme tumbuh, bahkan kematian pun bisa menjadi sekadar bahan tontonan tanpa rasa duka bersama. Â
Membangun Kembali Kesadaran Kolektif Â
Seruan Komisi X DPR agar kampus memperkuat Satgas Pencegahan Kekerasan adalah langkah awal yang baik. Tapi, sebagaimana Durkheim ingatkan, masalah anomie tidak cukup diselesaikan dengan kebijakan administratif. Kita perlu re-moralisasi membangun kembali nilai-nilai moral bersama yang menumbuhkan empati dan solidaritas. Â
Kampus dan masyarakat perlu menciptakan kembali ritual-ritual sosial yang memperkuat rasa saling terhubung: kegiatan reflektif, ruang dialog, dan budaya saling peduli. Empati harus diajarkan bukan sekadar lewat teori, tapi lewat pengalaman bersama. Â
Jika tidak, kematian seperti yang dialami Timothy akan terus berulang menjadi statistik sunyi dari masyarakat yang kehilangan arah moralnya. Dan kita, tanpa sadar, menjadi bagian dari dunia yang kian dingin, di mana solidaritas telah mati sebelum manusia itu sendiri. Â
