Depok — Laboranews.com | Camat Sukmajaya, Christine Desima Arthauli Tobing, menghadiri Perayaan Natal Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia Setempat (PGIS) Kota Depok yang digelar pada Jumat (16/1/2026) di Gedung Gereja Bethel Indonesia (GBI), Jalan Kamboja, Kota Depok.

Perayaan Natal tersebut dihadiri sekitar 2.100 jemaat, melampaui target undangan awal sebanyak 1.500 orang. Ibadah berlangsung khidmat dan penuh sukacita, dengan mengusung semangat kebersamaan lintas umat beragama.
Usai kegiatan ibadah perayaan Natal, Camat Christine menegaskan bahwa toleransi bukan sekadar jargon, melainkan harus diwujudkan melalui kebijakan dan sikap nyata.
Ia mencontohkan langkah Wali Kota Depok, Supian Suri, yang memberikan amanah kepadanya sebagai camat meski berlatar belakang perempuan, beragama Kristen, dan berasal dari suku Batak.
“Jika semua elemen memahami bahwa jabatan camat dijalankan berdasarkan tugas pokok dan fungsi, serta kompetensi, maka tidak ada alasan untuk mempertentangkan latar belakang agama atau suku,” ujar Christine.
Ia menekankan bahwa toleransi bukan berarti mayoritas harus selalu mengalah atau minoritas harus selalu dimenangkan.
Menurutnya, toleransi adalah soal saling menghormati dalam koridor aturan yang berlaku.
“Toleransi itu bukan mayoritas mengalah dan minoritas dimenangkan. Bukan begitu. Semua harus berjalan sesuai aturan,” tegasnya.
Christine juga menyinggung pendirian rumah ibadah agar tetap mengikuti ketentuan dan peraturan perundang-undangan. Ia menilai, pemahaman yang benar terhadap regulasi akan mencegah kesalahpahaman antarumat beragama.
“Kalau semua sesuai aturan, tidak ada minoritas yang ditekan dan tidak ada mayoritas yang semena-mena. Semua akan hidup damai,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengajak umat beragama untuk aktif berkomunikasi dan berbaur dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Ia menyoroti minimnya keterlibatan warga nonmuslim dalam sejumlah kegiatan sosial, seperti PKK.
“Umat Nasrani jangan hanya mengurung diri. Mari berbaur dalam kegiatan sosial kemasyarakatan agar kasih dan persaudaraan bisa tumbuh dengan sendirinya, sekaligus memudahkan akses informasi terkait program-program pemerintah,” jelasnya.
Christine turut mengapresiasi PGIS Kota Depok yang melibatkan Paduan Suara Anak Depok (PSAD), yang terdiri dari anak-anak SD dan SMP, termasuk yang beragama Islam. Menurutnya, kehadiran mereka menunjukkan semangat toleransi yang nyata.
“Anak-anak muslim bisa masuk ke gereja dan bernyanyi bersama dengan membawakan lagu nasional. Ini contoh sikap toleransi yang baik dan perlu terus diperbanyak, tanpa mengurangi keimanan masing-masing,” ungkapnya.
Ia pun mengajak para pejabat publik agar tidak bersikap “alergi” terhadap rumah ibadah agama lain.
Menurutnya, saling menghargai justru akan memperkuat persatuan dan kedamaian di tengah masyarakat.
Terkait kehadiran perwakilan Pemerintah Kota Depok, Christine menjelaskan bahwa Wali Kota Depok diwakili oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol). Hal tersebut disebabkan belum adanya serah terima jabatan pascamutasi pejabat.
Meski demikian, perayaan Natal PGIS Kota Depok dinilai berjalan dengan baik dan menjadi momentum penting dalam memperkuat toleransi serta harmoni antarumat beragama di Kota Depok.
(Rohana)
