Jakarta – Penulis dan penyair Sihar Ramses Simatupang meluncurkan buku kumpulan cerpen berjudul Kesetiaan Rumero di Antara Anjing dan Mayat Membusuk di Balai Sastra HB Jassin, Taman Ismail Marzuki ( TIM) Jakarta, Jumat (5/6/2026).

Buku tersebut menghimpun karya-karya cerpen yang ditulis Sihar sejak 1994 hingga saat ini.
Kumpulan cerpen tersebut memuat 15 karya pilihan yang pernah diterbitkan di berbagai media. Cerpen-cerpen itu kemudian dirangkai dalam satu benang merah tematik yang menyoroti persoalan keterpinggiran, ketertindasan, keterasingan, serta berbagai realitas sosial dalam konteks lokal, nasional, hingga global.

Dalam acara peluncuran buku, hadir dua pembicara, yakni Aryanti Isnamurti dan Fransisca Ria Susanti. Keduanya mengulas secara mendalam karya-karya yang termuat dalam buku tersebut.
Aryanti Isnamurti, Kepala Pelaksana dan Pengelola Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, mengatakan buku tersebut merupakan buah ketekunan Sihar dalam menelusuri kembali karya-karya lamanya yang tersebar di berbagai media.
Menurut Aryanti, karya-karya dalam buku tersebut menunjukkan kepekaan Sihar sebagai seorang penyair sekaligus jurnalis yang dekat dengan fakta, peristiwa, dan beragam karakter manusia.
“Dengan kemampuan sebagai penyair dan cerpenis, berbagai fakta tersebut diolah menjadi renungan dan cerita yang penuh makna. Saya melihat ada sensitivitas yang kuat terhadap realitas sosial yang dituangkan melalui karya sastra,” ujarnya.
Sementara itu, jurnalis senior sekaligus Pemimpin Redaksi Jaring.id, Fransisca Ria Susanti, menilai karakter kepenyairan Sihar sangat terasa dalam cerpen-cerpen yang ditulisnya.
Menurut perempuan yang akrab disapa Santi itu, tema besar yang muncul dari kumpulan cerpen tersebut adalah kritik terhadap ketidakadilan dan kekuasaan yang menindas.
“Setelah membaca 15 cerpen dalam buku ini, saya melihat benang merahnya adalah politik yang beringas dan ketidakadilan. Ketika politik menjadi begitu beringas dan keadilan terasa begitu jauh, sastra memang harus berbicara. Kemarahan yang muncul dalam karya-karya ini adalah kemarahan banyak orang, termasuk saya,” katanya.
Sihar Ramses Simatupang sendiri merupakan sastrawan kelahiran Jakarta yang menghabiskan masa sekolahnya di Depok. Ia pernah menempuh pendidikan di Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sam Ratulangi, Manado, sebelum menyelesaikan studi sarjananya di Fakultas Sastra Universitas Airlangga. Ia juga menamatkan pendidikan pascasarjana Pengkajian Seni di Institut Kesenian Jakarta.
Dalam perjalanan kariernya, Sihar pernah menjadi Redaktur Budaya Harian Umum Sinar Harapan. Ia juga memiliki pengalaman mengajar di Erudio School of Art dan Fakultas Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara.
Selain aktif menulis, Sihar juga terlibat dalam berbagai organisasi dan lembaga kebudayaan. Ia mendirikan Yayasan Rumah Aksara Khatulistiwa, Pustaka dan Seni Lembaga Kebudayaan Depok, Indonesia Writer Inc, serta aktif di Yayasan Hari Puisi dan Perkumpulan Penulis Alinea.
Sejumlah karya yang telah diterbitkannya antara lain kumpulan puisi Metafora Para Pendosa (2004), Manifesto, Semadi Akar Angin, Kabar Burung Pecah di Jendela, serta kumpulan cerpen Narasi Seorang Pembunuh.
Sementara karya novelnya antara lain Lorca: Memoar Penjahat Tak Dikenal, Bulan Lebam di Tepian Toba yang masuk nominasi Khatulistiwa Literary Award 2009 dan memperoleh penghargaan dari penerbit Italia Metropoli d’Asia, Misteri Lukisan Nabila, serta Lorca Inocencio yang terbit pada 2017. Saat ini, ia tengah menyiapkan novel terbarunya berjudul Rumah Marsak.
Dalam sambutannya, Sihar menegaskan bahwa menulis puisi, cerpen, maupun novel pada hakikatnya memiliki tujuan yang sama, yakni menyuarakan mereka yang terpinggirkan dan tidak memiliki ruang untuk berbicara.
“Api harus terus kita hidupkan. Api terhadap kebatilan, terhadap suara keterpinggiran, ketertindasan, dan keterbelakangan pada setiap rezim sejarah. Dengan fungsi kita masing-masing, kita perlu bersuara karena banyak orang yang tidak mampu menyuarakan apa yang mereka rasakan,” ujarnya.
Ia menambahkan, tugas seorang penulis adalah menjaga suara-suara yang kerap diabaikan agar tetap terdengar dalam perjalanan sejarah.
“Sejarah rezim mana pun, kita harus menyuarakan orang-orang yang tidak bisa bersuara. Seperti ungkapan yang sering saya dengar, tidak menulis mati, menulis pun mati, maka menulislah apabila memang harus mati,” tutup Sihar. (Rh)
