DEPOK – Laboranews.com| Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kota Depok berkolaborasi dengan Dompet Dhuafa menggelar Pelatihan Terapi Perilaku bagi para shadow teacher (guru pendamping) dan orang tua anak berkebutuhan khusus autisme. Kegiatan ini berlangsung di Aula Perpustakaan Balai Kota Depok pada Sabtu (29/8/2026).

Mengusung tema “Seni Membersamai Anak Istimewa: Wujudkan Kemandirian Holistik, Perkuat Resiliensi Caregiver”, pelatihan ini diikuti sekitar 60 peserta. Acara menghadirkan tiga narasumber ahli, yakni terapis Applied Behavior Analysis (ABA) Mausul Kamil, shadow teacher Sekolah Alam Purnama, serta praktisi kesehatan mental Stefanie Buyung.
Perwakilan PPDI Kota Depok, Natalina, menegaskan pentingnya mengenali potensi mendalam yang dimiliki oleh setiap anak berkebutuhan khusus.
“Setiap anak terlahir baik dan memiliki potensi luar biasa. Tugas kita sebagai orang tua dan pendamping adalah jeli menemukan di mana keistimewaan itu berada,” ujar Natalina dalam sambutannya.
Ia menambahkan, sinergi antara shadow teacher di sekolah dan orang tua di rumah merupakan kunci utama dalam membentuk kemandirian anak secara holistik sekaligus memperkuat mental para pendamping.
Pada kesempatan yang sama, Koordinator Program PKT Dompet Dhuafa, Priyanto, menjelaskan bahwa seluruh anak memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk berkembang. Namun, realita di lapangan menunjukkan masih banyak orang tua maupun pihak sekolah yang menghadapi kendala terapi hingga pemenuhan nutrisi anak.
“Melalui program Disabilitas Mandiri dari Lembaga Pelayan Masyarakat Dompet Dhuafa, kami berkomitmen memfasilitasi ruang berbagi ilmu. Kebutuhan penanganan anak autisme ini berlaku jangka panjang, mulai dari usia anak-anak hingga dewasa,” jelas Priyanto.
Priyanto menambahkan, pelatihan ini tidak hanya berfokus pada teknik terapi perilaku anak, tetapi juga menyediakan ruang dukungan psikologis bagi para pendamping. Lewat sesi mindfulness, para caregiver diajak melepaskan beban emosional agar kondisi psikologis mereka tetap sehat saat kembali menemani anak di rumah. Kegiatan ini nantinya juga akan ditindaklanjuti dengan pemantauan dan evaluasi perkembangan anak secara berkala.

Suasana haru sempat mewarnai sesi mindfulness yang dipandu oleh Stefanie Buyung. Seorang ibu yang memiliki dua anak berkebutuhan khusus tak kuasa menahan air mata saat membagikan perjuangannya. Sesi ini menjadi pengingat pentingnya menjaga kesehatan mental para pendamping melalui edukasi dan strategi pengelolaan stres yang tepat.
Para peserta mengapresiasi tinggi inisiatif ini. Selain memperoleh pembekalan teknis mengenai terapi perilaku anak autisme, mereka juga mendapatkan dukungan emosional untuk meningkatkan kesabaran, keikhlasan, dan resiliensi dalam membersamai anak-anak istimewa.
