Depok – Laboranews.com| Forum Keluarga Spesial Indonesia (Forkesi) Depok menggelar nonton bareng (nobar) film Istimewa bersama anggota Forkesi se-Kota Depok secara gratis di XXI Margocity, Minggu (13/9/2026).

Kegiatan tersebut digelar Forkesi bekerja sama dengan production house (PH) Kairos Pictures. Film Istimewa sendiri baru akan tayang secara resmi di seluruh bioskop Indonesia pada 17 September 2026.
Humas Forkesi Pusat, Nisa, mengatakan film Istimewa memiliki nilai edukasi yang kuat karena mengangkat kehidupan anak-anak istimewa yang rentan terhadap berbagai bentuk manipulasi, penipuan maupun pemanfaatan oleh orang lain.

Menurutnya, anak-anak istimewa membutuhkan dukungan dari keluarga dan lingkungan sosial agar dapat berkembang serta menjalani kehidupan dengan lebih baik.
“Dalam film ini kita kerja sama dengan PH-nya, Kairos Pictures. Kebetulan Forkesi ada di seluruh Indonesia, jadi kita bekerja sama menayangkan film ini di 15 kota, mulai Jumat kemarin hingga hari ini di hari terakhir. Jumat kemarin di Solo, kemudian Sabtu kemarin ada di Bogor, Jember, Bontang, Palembang, dan untuk hari ini di Jakarta, Depok, Bekasi,” ujar Nisa.
Nisa menambahkan, kerja sama dengan Kairos Pictures merupakan kerja sama pertama Forkesi dengan rumah produksi tersebut. Sebelumnya, Forkesi juga pernah menggelar kegiatan nonton bareng bersama Screenplay untuk film Dancing in the Rain.
Ia menjelaskan, Forkesi merupakan wadah bagi keluarga yang memiliki anak berkebutuhan khusus atau anak spesial. Saat ini, Forkesi telah hadir di sekitar 40 kota di Indonesia, dengan sekretariat pusat berada di Keranggan, Bekasi.
“Forkesi itu sebagai wadah orang tua yang mempunyai anak spesial, keluarga spesial untuk bisa diketahui bahwa di Forkesi itu kegiatannya memberikan sosialisasi, parenting, menguatkan orang tua agar lebih kuat lagi mendampingi anak-anaknya,” jelasnya.
Sementara Forkesi Pusat, kata Nisa, lebih banyak melakukan pendekatan kepada pemerintah pusat, terutama dalam mendorong agar kebutuhan penyandang disabilitas dapat masuk ke dalam kebijakan pemerintah.
“Forkesi pusat lebih pendekatan ke pemerintah pusat, jadi misalnya agar masuk ke dalam kebijakan-kebijakan, seperti sekarang adanya KPD (Kartu Penyandang Disabilitas), kemudian kita ikut dalam konsesi,” katanya.
Menurut Nisa, pemerintah saat ini sudah mulai menunjukkan kepedulian terhadap penyandang disabilitas. Namun, masih diperlukan informasi dan literasi yang lebih luas mengenai berbagai jenis disabilitas agar kebijakan dan fasilitas yang tersedia dapat mengakomodasi kebutuhan seluruh kelompok.
“Untuk pemerintah sebenarnya sudah mulai peduli atau aware dengan penyandang disabilitas, namun mungkin masih perlu banyak informasi dan literasi yang harus kita berikan. Khususnya misalnya jenis-jenis disabilitas, ini kan yang diakomodir masih yang disabilitas fisik, sementara yang neurodivergent itu belum. Kita berusaha supaya informasi ini tersampaikan agar fasilitas buat anak-anak ini bisa ada,” jelas Nisa.
Lebih lanjut, Nisa mengatakan Forkesi saat ini mulai berkolaborasi dengan Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS).
Menurutnya, DNIKS merupakan lembaga yang berada di bawah pemerintah namun berada di luar kementerian. Melalui kolaborasi tersebut, Forkesi berencana membuat berbagai program, salah satunya pelatihan bagi remaja.
“Kita sudah bermitra dengan DNIKS, di mana lembaga ini di bawah pemerintah namun di luar kementerian. Jadi kita berencana mau membuat seperti pelatihan untuk remaja, pendekatan ke kementerian,” katanya.
Nisa menambahkan, Forkesi juga pernah bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) dalam pelaksanaan pelatihan literasi digital.
“Kita sudah pernah bekerja sama dengan Komdigi membuat pelatihan literasi digital yang saat itu dilaksanakan di Cikarang, Bandung dan Kalimantan, dan kita masih menunggu lagi dari Komdigi untuk melakukannya di kota-kota lain,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Forkesi Depok, Dariah, mengapresiasi pelaksanaan nobar film Istimewa tersebut. Ia bersyukur kegiatan dapat berjalan dengan baik dan memberikan pengalaman sekaligus edukasi bagi keluarga yang hadir.
Menurut Dariah, film yang berdurasi sekitar dua jam tersebut dapat menjadi pengingat bagi orang tua anak disabilitas untuk terus membekali anak-anak mereka dengan berbagai hal, terutama terkait karakter dan kewaspadaan dalam kehidupan sehari-hari.
“Film dengan durasi dua jam ini, insyaallah menjadi reminder kita sebagai orang tua disabilitas untuk membekali anak-anak kita dengan banyak hal, terutama akan karakter, teliti, tidak sembarangan memberikan tanda tangan, jangan mudah termakan hoaks dan pastinya menjadikan anak-anak yang peduli dengan sesama disabilitas dan lainnya,” ucap Dariah.
Salah satu orang tua anak disabilitas yang mengikuti kegiatan tersebut juga mengaku bersyukur dapat mengikuti nobar film Istimewa.
Selain memberikan pengalaman kepada anaknya untuk mengenal dan menonton film di bioskop XXI, ia menilai cerita yang disajikan dalam film tersebut sangat edukatif karena menggambarkan kehidupan anak disabilitas, mulai dari karakter, kepolosan hingga keterbatasan yang dimiliki.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa anak disabilitas memang membutuhkan pendampingan dan dukungan dari keluarga maupun lingkungan sekitarnya.(Rohana)
