POLITIK

Mangihut Sinaga Tekankan Pentingnya Pengamalan Empat Pilar Kebangsaan dalam Kehidupan Berbangsa

Gambar: Mangihut Sinaga, S.H., M.H. Mensosialisasikan terkait program Empat Pilar MPR RI di Kantor Sinode Gereja HKI Siantar, Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara

Penulis: Axel

Pematangsiantar, 4 Oktober 2025 — Anggota MPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Mangihut Sinaga, S.H., M.H., kembali menegaskan pentingnya penguatan nilai-nilai kebangsaan di kalangan masyarakat, khususnya generasi muda dan umat beragama. Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang digelar di Kantor Sinode Gereja HKI Siantar, Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara.

Kegiatan yang dihadiri tokoh masyarakat, pemuka gereja, pemuda, dan jemaat HKI ini menjadi wadah refleksi bersama mengenai makna Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai dasar dan pedoman dalam menjaga keutuhan bangsa di tengah tantangan zaman.

Dalam paparannya, Mangihut Sinaga menekankan bahwa Empat Pilar Kebangsaan bukan sekadar simbol atau hafalan, melainkan harus dihayati dan diamalkan dalam setiap tindakan nyata di masyarakat.

“Nilai-nilai Pancasila harus benar-benar hidup dalam keseharian kita. Tidak cukup hanya diucapkan, tapi diimplementasikan melalui sikap saling menghargai, toleransi, dan semangat gotong royong,” ujar Mangihut Sinaga.

Gambar: Mangihut Sinaga, S.H., M.H. Anggota MPR RI Fraksi Partai Golkar menjawab pertanyaan dari para audiens

SIMAK JUGA :  Refleksi Penegakan Hukum 2025: Ketegasan Kuantitatif dan Tantangan Legitimasi

Lebih lanjut, Mangihut menjelaskan bahwa UUD 1945 sebagai konstitusi negara harus dipahami sebagai landasan hukum tertinggi yang menjamin hak dan kewajiban warga negara. Sedangkan NKRI menjadi bentuk final negara yang wajib dijaga bersama tanpa memandang perbedaan suku, agama, maupun latar belakang.

Ia juga menyoroti semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagai fondasi moral untuk memperkuat semangat persatuan di tengah keberagaman bangsa Indonesia.

“Kita boleh berbeda, tapi jangan terpecah. Perbedaan itu anugerah yang harus dikelola dengan semangat persaudaraan dan tanggung jawab kebangsaan,” tambahnya.

Kegiatan sosialisasi ini berlangsung interaktif dengan sejumlah pertanyaan dari peserta. Salah satunya menyinggung penerapan nilai keadilan sosial di tengah ketimpangan hukum dan ekonomi. Menanggapi hal itu, Mangihut menjelaskan bahwa seluruh sila dalam Pancasila saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan.

“Keadilan sosial tidak hanya bicara soal kaya dan miskin, tetapi juga keadilan dalam kebebasan beragama, kemanusiaan, dan penghormatan terhadap martabat setiap individu,” ungkapnya.

Gambar: Antusiasme para audiens yang hadir di Kantor Sinode Gereja HKI Siantar, Kota Pematangsiantar

Ia juga menyoroti pentingnya pendidikan karakter sejak dini, mengingat pelajaran seperti Pendidikan Moral Pancasila (PMP) yang dulu menjadi sarana efektif pembentukan moral generasi muda kini sudah tidak ada lagi dalam kurikulum pendidikan.

SIMAK JUGA :  Refleksi Penegakan Hukum 2025: Ketegasan Kuantitatif dan Tantangan Legitimasi

“Kita perlu kembali menanamkan pendidikan moral dan nilai-nilai Pancasila di sekolah-sekolah agar generasi muda kita tidak kehilangan arah dalam menghadapi arus globalisasi,” tegasnya.

Menutup acara, Mangihut Sinaga mengajak seluruh peserta untuk terus menumbuhkan rasa syukur atas kemerdekaan yang telah diraih para pahlawan, serta mengisi kemerdekaan itu dengan karya, integritas, dan semangat kebersamaan.

“Tugas kita hari ini adalah melanjutkan perjuangan dengan cara bekerja nyata, menjaga persatuan, dan memberi kontribusi bagi kemajuan bangsa,” pungkasnya.

berita lainnya

Mangihut Sinaga Tegaskan Perlindungan Hukum bagi Guru dalam Seminar Pendidikan PGRI Pematangsiantar

Admin

KEJAHATAN ASUSILA OLEH EX KAPOLRES NGADA: PELANGGARAN SERIUS TERHADAP HUKUM DAN KEMANUSIAAN

Admin

Mangihut Sinaga: Keberhasilan Polrestabes Medan Harus Jadi Pemicu Pemberantasan Narkoba yang Lebih Masif!

Admin
error: Content is protected !!