PENDIDIKAN & OLAHRAGA

SURAT CINTA UNTUK STP SIBOLGA

Mahasiswa STP Sibolga

SIBOLGA- Dipagi hari yang cerah, tepatnya rabu 06 Oktober 2021 dengan secangkir kopi dihadapan saya, saya menatap langit cerah dan sejenk merenung tentang apa yang terjadi di kampus tercinta. Sebagai presiden mahasiswa atau yang dikenal dengan sebutan ketua BEM, saya merasa sangat sedih dan terdorong untuk menuliskan isi pikiran dalam secarik kertas dengan harapan yang mungkin tak pasti terjawab dalam waktu dekat.

MAHASISWA STP SIBOLGA

Dalam dua bulan terakhir saya bertanya-tanya siapa aktor intelektual yang mampu memecah belah mahasiswa bahkan melalui doktrinasi terhadap rekan-rekan saya sehingga sanggup melaporkan orangtuanya dengan target yang tidak muluk-muluk yaitu untuk memenjarakan. Aktor intelektual ini ternyata sedikit beruntung karena ada beberapa barisan sakit hati ikut menyambut dan mendukung beliau karena ketidakpuasan terhadap ketegasan Ketua STP Sibolga Bapak Dr. Lucien Pahala Sitanggang.

Saya mebuka facebook saya dan mencari tahu perilaku dari oknum yang mampu mendoktrin rekan-rekan saya, ternyata begitu banyak informasi yang mungkin bisa menjadi pertimbangan bagi mahasiswa dan masyarakat terhadap sosok yang berniat menghancurkan STP Sibolga. Tahun 2020 beliau menulis serial demi serial kejelekan Pemerintah Kota Sibolga dimulai dari beberapa Kepala Dinas, Staf Ahli, Sekretaris Daerah, sampai Walikota Sibolga sekalipun, seolah-olah beliau adalah malaikat yang terzolimi, tidak pernah korupsi tapi menjadi korban yang harus mencicipi dua penjara yaitu Tanjung Gusta dan Lapas Tukka. Secara membabi buta beliau menggiring opini, dan saya sempat tertarik membaca rubric beliau, yang pada akhirnya berita itu hanya sampah yang cuma memojokkan bapak Syarfi Hutauruk.

Saya tertegun dan sadar bahwa beliau yang kerjanya hanya menjelek-jelekkan, sudah diberi kesempatan untuk pernah menjabat di Pemerintahan Kota Sibolga. Jauh kebelakang saya ingin bertanya kepada para wartawan tentang sosok beliau, ternyata banyak informasi yang sifafnya negatif. Publik harus tahu, siapapun Kepala Daerahnya baik Bupati dan Walikota, beliau merupakan sosok yang paling kritis untuk membela kepentingan sendiri dengan iming-iming akan diberi jabatan kalau sudah memegang Toa.

Ketika pak Tuani menjadi Bupati, dengan baju PNSnya beliau melakukan aksi demonstrasi dan itu terbawa sampai ketika beliau menjadi Kepala Kantor Kesbangpol yang selalu mengkritik pemerintah. Saudara yang saya curigai menjadi aktor intelektual dibelakang kejadian ini menunggangi kepentingan orang untuk mencapai tujuan tertentu, namun mengatasnamakan kebenaran agar tujuannya terselimuti yaitu merusak masa depan rekan-rekan saya. Kita pasti sepakat, tidak ada orangtua yang mengajarkan anaknya untuk melawan orangtuanya atau gurunya, karena dia pasti berharap diapun menjadi sosok yang sangat dihargai oleh anak-anaknya.

Saya yakin kepribadian seperti ini akan sulit diterima ditengah-tengah keluarga, sehingga cenderung egois dan akhirnya mencari pekerjaan yang tak pasti termasuk mendoktin anak-anak agar berperilaku kritis seperti yang dialami rekan-rekan saya. Saya baru 3 bulan menjadi ketua BEM, namun rasa cinta terhadap STP tumbuh seketika karena besarnya permasalahan yang di sebabkan oleh orang-orang yang sibuk dengan kepentingan sendiri. Sebelumnya saya tidak kenal Irnawati Sinaga, Bangun Sinaga, karena baru bekerja 3 bulan di STP. Saya hanya mengenal dekat Henry Sinaga, itupun karena mengajar kuliah dengan jumlah tatap muka yang sangat lucu. Dari 16 pertemuan dalam 1 semester, Henry Sinaga pernah memecahkan pertemuan hanya 4 kali, sisanya bahkan ada yang hanya 1 kali. Sangat wajar penjamin mutu menegur beliau karena hasil foling Henry Sinaga mendapatkan peringkat paling rendah diantara semua dosen di STP Sibolga.

Coba kalau boleh juur, yang saat ini menjadi Plt Ketua, membukakan hasil kinerja dosen selain pak Eko Ahaddy dari dosen luar, Bapak Dr. Lucien Pahala Sitanggang juga mendapat rating tertinggi dalam kepuasan penilaian mahasiswa. Coba teman-teman jujur siapa dosen yang paling asik dengan wawasan yang luar biasa, sehingga kita betah selama mengikuti perkuliahan dengan sedikit cerita-cerita lucu yang beliau berikan. Padahal beliau adalah dosen perancangan percobaan, pengolahan data perikanan yang sebenarnya mata kuliah yang membosankan bagi sebagian besar orang. Trik trik hitung cepat, penggunaan computer, dan susunan kata yang baik selama berjalannya perkuliahan membuat anak-anak termotivasi.

Mungkin tidak semua publik mengetahui bahwa Pak Lucien menyandang retinitis pigmentosa sehingga tidak dapat melihat dengan baik. Walaupun jalan harus dituntun, semangat juang beliau dapat menjadi teladan, yang membuat saya bingung dimana nilai kewarasan orang-orang yang saat ini membully beliau. jangankan untuk merampok oranglain, untuk menandatangani selembar kertaspun tangan beliau harus dituntun agar bisa menyelesaikan penandatanganan.

Surat cinta ini menjadi tempat curhatan saya karena saya memahami begitu sakitnya perasaan yang dialami oleh bapak Ketua STP saat ini. Saya tau, sikap diam yang diambil oleh beliau bahkan ketika kami minta untuk melawan adalah sebuah ekspresi yang menandakan beliau adalah orang cerdas. Beliau satu-satunya duta STP yang mampu menjalin kerjasama dengan lembaga luar negeri bahkan mengikuti Seminar Internasional di Cambridge University, Kamboja, Hoa Sen University, Ho Chi Minh, dan beberapa negara lainnya. Semua itu hanya demi akreditas STP, walaupun dilakukan dalam keterbatasan fisik yang beliau miliki.

Akhirnya saya mendapatkan sedikit jawaban atas rasa sakit hati yang beliau alami. STP memang sedikit edan, anak melaporkan bapaknya, dan Ibu ingin memenjarakan anaknya. Dan itulah satu kesimpulan dalam surat saya ini. Sungguh sebuah kepicikan seorang ibu berteriak kepada mahasiswa “Saya pemilik, beliau tidak kembali lagi ke STP, silahkan kalian kuliti”. Beliau lupa, pak Lucien telah meninggalkan aset milyaran dalam 3 tahun terakhir, mulai dari memenangkan hibah PP-PTS sebesar 700 juta ditahun 2019, pembelian sarana-prasarana multimedia, bahkan meninggalkan mahasiswa sebanyak 347 orang dari data feeder, belum lagi mahasiswa baru sejumlah ± 30 orang.
Mendengar rekaman percakapan antara mahasiswa, saya menjadi sedih, ayo mahasiswa jujur berteriaklah menyatakan kebenaran. Apakah kita pernah dibantu yayasan dalam menjalankan pendidikan di STP Sibolga. Semua kebutuhan pendanaan STP hanya dipikirkan oleh satu sosok tanpa ada sumbangan seribu rupiah pun dari pihak yayasan. Saya tau pasti, karena saat pakar akreditas datang untuk membuat pelatihan di STP, yayasan bahkan tidak pernah terlihat. Keterangan inipun saya dapatkan untuk memperkuat dugaan saya dari beberapa staf STP yang telah keluar. Pernahkah ibu pembina yayasan menyadari, sifat egoisnya, rasa yang selalu ingin dihormati dapat merugikan banyak orang. Saya tidak sepenuhnya melihat ibu yayasan sebagai pihak yang keliru, karena beliau hanya mendengar penjelasan dari orang-orang yang tersakiti.

Setelah mendengar cerita alumni, ternyata saudari Irnawati Sinaga sudah pernah mengundurkan diri tahun 2015 akibat penggelapan uang STP. Isu ini menjadi ajang balas dendam, sehingga ibu yayasan tidak melihat mana yang potensial terhadap kemajuan STP. Kami menunggu di ruang komisi I DPRD untuk berdialog antara bapak Ketua STP dan Yayasan, ternyata Yayasan tidak datang dan hanya mengirimkan sebuah surat, yang format suratnya ditulis dengan asal-asalan. Saya tertawa melihat surat ditulis dibulan September, namun nomor surat bertanda bulan agustus. Satu lagi kejadian yang lucu, surat peringatan kepada beberapa teman mahasiswa yang dibuat oleh Irnawati Sinaga tertanggal bulan Oktober, akan tetapi diminta hadir bulan September. Kekacauan administrasi sangat saya pahami karena STP kehilangan sosok penjamin mutu yang merupakan alumni Universitas Gadjah Mada. Beliau ikut mengundurkan diri oleh kebijakan-kebijakan yang dilakukan yayasan.

Publik harus tahu, aktor intelektual yang saya sebutkan diatas telah berhasil menciptakan cipta kondisi dan skenarionya berjalan mulus. Pengakuan mahasiswa terhadap keinginan Henry Sinaga menjadi ketua STP bukan lagi saya dengar dari satu dua orang, ambisi yang membutakan beliau sangat jauh dari logika, ingin memenjarakan orang yang pernah memberi jabatan di STP, dan juga mengualiahkan beliau di Univiversitas Simalungun.
Saya adalah orang yang melaporkan saudara ke polisi karena telah bekerjasama dengan nurintan membuat data palsu dengan memanfaatkan keterbatasan pengelihatan ketua STP.
Masa untuk membuat miskin, foto yang ditampilkan adalah foto rumah orang lain, karena di dalam juknis orangtua minimal S1, yang mengusulkan menjadi ibu, padahal bapaknya masih hidup. Tapi biarlah itu menjadi tugas kepolisian dalam mengungkap siapa dalang yang ingin merusak STP. Publik harus tahu isi penipuan dan penggelapan yang dimainkan hanyalah jalan untuk merusak repulasi dan sekaligus merendahkan martabat STP, sayangnya sikap tempramen ketua yayasan ikut terjebak dengan kepentingan-kepentingan politik yang ia miliki.

Ketika duduk di kantor DPR, salah seorang fungsionaris partai mengungkapkan yayasan yang ingin menjadi ketua partai berlambang banteng dan menyiapkan diri untuk mengikuti pesta demokrasi di 2024. Saya menjadi semakin bingung dengan menjelek-jelekkan ketua STP, beliau tidak sadar bahwa beliau menjelekkan diri sendiri, berhentilah ibuku yang tercinta, karena Sibolga hanyalah kota kecil yang sebagian besar sudah mengenal Anda. Saya berharap kesan positif dapat lahir dari STP karena STP Sibolga bukan tempat berpolitik. Pertemuan PAC di kampus STP sudah melanggar aturan, dan pilihan untuk tidak berpolitik practice di kampus tentunya adalah ketaatan terhadap peraturan.

Saya telah mentaati untuk tidak melakukan aksi terhadap tindakan ketidak adilan yang dilakuakn di STP yang khususnya terkait menagemen mutu akademik. Tapi hari ini saya sedih karena mengetahui bahwa esok pada tanggal 7, akan ada aksi di Polres Sibolga yang kembali menyampaikan isu sampah membela kaum yang merasa tertindas, orang-orang yang tidak tahu berterima kasih. Bapak Kapolres adalah orang yang cerdas, begitu juga dengan Kasat Intel dan jajaran polisi Kota Sibolga, sehingga kita tidak perlu menggurui dan menjadikan kita sebagai komoditas dari kepentingan oknum.

Siapa Yovi Sihotang yang menyatakan diri sebagai pemimpin BEM, menjadi ketua saja baik di AKN ataupun di STP Sibolga tidak pernah. Saya satu angkatan dengan beliau, tapi hampir tidak pernah bertatap muka dikampus untuk mengikuti perkuliahan. Irnawati Sinaga yang merupakan Ketua Program Studi di AKN memanfaatkan kedekatan ini untuk mengintimidasi mahasiswa melalui jabatan PK III yang sayapun tidak tahu kapan diangkatnya. Mudah-mudahan dengan 3 jabatan yang dimiliki dimulai dari Ketua LPPM, PK III STP Sibolga, dan Ketua Prodi di AKN, dapat menyadarkan bahwa beliau sangat potensial tersangkut hukum.

Semua cerita pahit ini saya harapkan cepat berakhir, karena salah satu ketua prodi dari perguruan tinggi di Medan sudah menghubungi saya dan menanyakan proses perpindahan rekan-rekan STP ke perguruan tinggi tersebut. Kalaupun mereka akan pindah, biarlah mereka pindah karena pilihan akreditas yang lebih baik, bukan karena cipta kondisi oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Saya akan tetap menjaga STP, karena saya ingin menjadi pemimpin seperti sosok bapak Dr. Lucien Pahala Sitanggang.

Mencintai tidak memerlukan alasan, tetapi memerlukan peengorbanan, itulah pesan beliau kepada kami jajaran pengurus BEM sehingga kami berhenti untuk aksi dan lebih memilh fokus untuk belajar.
Semoga masih ada pintu maaf buat anak-anak yang ingin memenjarakan orangtuanya di hatimu,sang motivator kami.

Salam, Cikal Alfager Telaumbanua, Mahasiswa STP SIBOLGA.

berita lainnya

Pelepasan Purnawiyata Angkatan 7 SMAN 11 Kota Depok

Rohana Sinaga

SMAN 8 Depok Gelar Pelepasan Siswa Angkatan ke-11 Tahun 2024

Rohana Sinaga

Mahasiswa UPER Diversifikasi Olahan Singkong, Dongkrak Ekonomi Desa Barengkok

Rohana Sinaga
error: Content is protected !!